Jakarta, jakartawaspada.com – Dalam rangka mendukung gerakan go green dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup minim sampah, Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) DKI Jakarta bersama Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jakarta Timur menggelar Pelatihan Zero Waste Lifestyle.
Kegiatan yang berlangsung pada hari Selasa (25/3/2025) di Gedung Djuanda PWM DKI Jakarta ini dihadiri oleh sekitar 50 peserta dari berbagai lembaga dan organisasi lingkungan di DKI Jakarta.
Para peserta berasal dari Lembaga Lingkungan Hidup & Penanggulangan Bencana Pimpinan Daerah Aisyiyah se-DKI Jakarta, Pimpinan Cabang Aisyiyah se-DKI Jakarta, Majelis Lingkungan Hidup se-Jakarta Timur, serta Pimpinan Cabang Muhammadiyah se-Jakarta Timur. Pelatihan ini bertujuan untuk membekali peserta dengan keterampilan dalam menerapkan gaya hidup ramah lingkungan serta pemanfaatan bahan alami untuk mendukung ketahanan pangan.
Pembuatan Tempe: Solusi Ramah Lingkungan dan Ketahanan Pangan
Salah satu sesi yang menarik perhatian peserta adalah praktik pembuatan tempe, yang disampaikan oleh Dr. Meitiyani, M.Si dan Dr. Maryani, M.Si. Para narasumber menjelaskan bahwa tempe merupakan makanan berbasis fermentasi yang tidak hanya bergizi tinggi, tetapi juga berkontribusi dalam pengelolaan limbah organik secara alami.
Dalam praktik tersebut, peserta diajarkan teknik dasar pembuatan tempe, mulai dari pemilihan kedelai yang berkualitas, proses perendaman, hingga fermentasi menggunakan ragi tempe yang mengandung jamur Rhizopus oligosporus atau Rhizopus oryzae. Jamur ini tumbuh optimal di lingkungan lembab dan sedikit asam, yang umum ditemukan di daerah tropis maupun subtropis.
Proses Pembuatan Tempe Secara Alami
Pembuatan tempe dimulai dengan merendam kedelai selama 24 jam, kemudian mengupas kulitnya agar fermentasi berjalan optimal. Setelah itu, kedelai dikeringkan dan dicampur dengan ragi tempe sebanyak 3–5%, yang dilarutkan dalam air selama 20–30 menit.
Langkah selanjutnya, kedelai yang telah dicampur ragi dibungkus menggunakan daun pisang atau plastik berlubang, lalu difermentasi selama 24–48 jam dalam suhu hangat. Dalam periode ini, jamur akan tumbuh, membentuk serabut putih yang menyatukan kedelai, sehingga menjadi tempe dengan tekstur padat dan cita rasa khas.
Tempe yang telah jadi bisa langsung dikonsumsi atau diolah menjadi berbagai hidangan sehat. Selain kaya akan protein, serat, dan probiotik, tempe juga menjadi pilihan pangan berkelanjutan, yang mendukung ketahanan pangan nasional tanpa menghasilkan limbah berlebih.
Mendorong Gaya Hidup Berkelanjutan
Dalam penutup materinya, narasumber menekankan bahwa pembuatan tempe adalah contoh nyata bagaimana zero waste lifestyle dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan proses yang alami dan minim limbah, tempe tetap menjadi makanan favorit masyarakat Indonesia dan dapat berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan di masa depan.
Melalui pelatihan ini, Aisyiyah DKI Jakarta berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya pola konsumsi yang berkelanjutan, sekaligus berkontribusi dalam gerakan go green yang lebih luas.